Tuesdays with Morrie by
Mitch Albom
My rating:
5 of 5 stars
Tuesday with Morrie, aku sama sekali gak kenal ama Mitch Albom sebelumnya. Aku dapet buku ini sebagai hadiah ulang tahunku dari salah seorang sahabat baikku. Sahabat yang dari semester pertama sudah sering satu kelompok, sering diskusi, keluar bareng dan gak jarang jadi korban sikapku yang Koleris; gak mau kalah kalo sudah berpendapat. Thanks
Ky!
Pertama dapat buku ini udah langsung aku baca (beberapa hari kemudian, karena kebetulan aku lagi baca buku Coelho). Sampe di akhir bagian Selasa Keempat tentang kematian. Aku berhenti dan baru aku teruskan barusan. Skitar dua jam akhirnya dapat aku selesaikan membaca. Entah karena mungkin faktor lagi gak enak badan atau apa. Aku merasa membaca buku ini hari ini sungguh sangat tepat. Banyak hal yang bagus yang kita dapatkan dari buku ini. Bukan karena buku ini menyuguhkan cerita yang seru layaknya Harry Potter, tapi karena buku ini menyuguhkan kita sebuah cerita nyata. Cerita pengalaman Mitch bersama gurunya Morrie. Cerita tentang hari selasa mereka berdua yang penuh dengan kuliah tanpa buku. Kuliah tanpa ada tugas. Kuliah dengan materi pengalaman sang Guru, Mitch.
Ini adalah proyek terakhir mereka. Mitch pun rela setiap Selasa terbang dari Detroit ke West Newtown, Boston. Massachusetts. Tak hanya itu, ia pun rela sampai "menyeboki" guru kesayangannya. Diakhir-akhir pertemuan mereka, Morrie semakin dikalahkan oleh ALS (apa itu ALS baca
di sini). Perlahan tapi pasti, kemampuan-kemampuan Morrie mulai berkurang. Dari tidak bisa berjalan, tidak bisa makan sendiri, tidak bisa cebok sendiri, hingga punggungnya harus dipukul-pukul untuk mengurangi cairan di paru-paru agar tidak menggumpal. Batuk yang semula hanya sekedarnya saja hadir, lama kelamaan tak kenal waktu. Malah sering kali mengganggu tidur malamnya.